Tampilkan postingan dengan label Politics. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Politics. Tampilkan semua postingan

Kamis, 07 November 2013

Komunikasi Politik Jokowi Disebut Paling Bagus, Megawati Buruk

Lembaga Demokrasi Bertanggungjawab (LDB) meluncurkan hasil riset tentang efektivitas komunikasi politik bakal calon presiden di Pemilu 2014. Nama Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo (Jokowi) di urutan pertama sebagai bakal capres paling bagus, disusul oleh Jusuf Kalla (JK) dan Prabowo Subianto.

Komunikasi politik Jokowi disebut paling bagus, Megawati buruk


Direktur Eksekutif LDB Tjipta Lesmana menjelaskan, pihaknya melakukan analisis terhadap 11 tokoh dengan parameter komunikasi politik yang dinilai paling layak. Seluruhnya dinilai dari konteks, penampilan, pesan, bahasa non verbal, kualitas suara, humor.

"Kekurangan Jokowi humor, hampir tidak ada. Kekuatan Jokowi itu bisa nempel dekat dengan audiens, bicara langsung, bahasa sederhana, Jokowi bicara selalu problem solving, to the point apa adanya," ujar Tjipta dalam peluncuran hasil penelitian di LDB, Kompleks Parlemen, Jakarta, Rabu (6/11).

Sementara Jusuf Kalla, Tjipta menambahkan, keunggulan JK selalu berkata dan berucap dengan jalan keluar. JK, tambah dia, juga memiliki humor yang baik sebagai calon pemimpin.

"Banyak pakar komunikasi politik harus suara keras. Tidak selalu, kalau orang menyerang-nyerang terus ini buku sudah mengatakan demikian kalau komunikasi politik menyerang terus bisa back fire, rakyat jenuh kerjaannya nyerang problem solving enggak ada," ujar dia.

"JK hampir enggak pernah suara keras tapi konteks rendah, kekuatan selalu problem solving. JadiJK dari segi komunikasi politik bagus, humor sering juga, cuma kekurangan body language sangat kurang penampilan bagus, JK hampir tidak pernah menggurui segi komunikasi politik bagus sekali," tegas dia.

Sementara di urutan ketiga, ada Ketua Dewan Pembina Partai Gerindra Prabowo Subianto. Menurut dia, Prabowo mirip Bung Karno dari sisi komunikasi politik.

"Ada mirip-mirip profil mirip Bung Karno suara tinggi sekali, problem solving ada, cuma kurang merakyat, beda dengan Jokowi dia bisa nempel dengan rakyat," tutur dia.

Namun anehnya, seorang Ketua Umum PDI Perjuangan (PDIP), Megawati Soekarnoputri yang sudah bertahun-tahun berada di dunia politik justru ada di urutan ke 10. Jauh di bawah Jokowiyang notabene adalah senior dari Jokowi.

Tjipta membantah dirinya menjadi salah satu relawan atau yang mendukung Jokowi. "Tidak saya bukan relawan Jokowi," kilah dia.

Berikut hasil analisis LDB, tokoh yang dinilai punya komunikasi politik paling bagus:

1. Joko Widodo (Jokowi) (85).
2. Jusuf Kalla (81).
3. Prabowo Subianto (78).
4. Anies Baswedan (75).
5. Surya Paloh (73).
6. Gita Wirjawan (70).
7. Aburizal Bakrie (68).
8. Wiranto (67).
9. Dahlan Iskan (65).
10. Megawati Soekarnoputri (63).
11. Pramono Edhie (63).


Kamis, 31 Oktober 2013

Bagaimana Jika Presiden dari Non-Islam? Ini Jawaban Jusuf Kalla


Pada Sinode yang digelar awal Maret 2013 lalu, Jusuf Kalla yang merupakan Ketua Dewan Masjid Indonesia diundang dalam acara tersebut. Acara yang dihadiri oleh 700 Pendeta dari seluruh Indonesia ini meminta JK untuk memberikan nasehat dan pandangannya mengenai keharmonisan dan damai dalam perbedaan.
Dalam sesi tanya jawab, ada seorang Pendeta yang bernama Pendeta Stefanus Marinjo bertanya pada JK “Apakah Bapak Jusuf Kalla secara Pribadi mau dipimpin oleh Presiden yang non-Islam?” 


Bukan JK namanya kalau tidak dapat menjawab secara rasional dan tegas. JK pun menjawab: 


“Kalau bicara tentang Presiden non-Islam, bahwa kita semua harus taat pada UUD 45, disitu tidak mencantumkan syarat agama. Tapi yang terjadi adalah pilihan rakyat; tentu umumnya orang memilih sesuai dengan kesamaan agamanya. Tapi ini bukan hanya terjadi di Indonesia, di Amerika pun yang merupakan kiblat demokrasi, butuh waktu 171 tahun untuk orang Katolik bisa jadi Presiden di Amerika (Karena di Amerika mayoritas menganut Kristen Protestan). John F, Kennedy yang merupakan orang Katolik adalah orang pertama yang menjadi Presiden di Amerika. Dan kemudian di Amerika juga butuh waktu 220 tahun untuk orang kulit hitam, Barrack Obama untuk menjadi Presiden di Amerika.” 


JK pun melanjutkan argumennya dengan mempertegas posisinya tentang keberagaman di Indonesia dan pilihan politik. 


“Jadi, kita tidak bisa bicara bahwa kita tidak demokratis, karena minoritas tidak bisa jadi Presiden, di Amerika pun butuh waktu 220 tahun untuk kulit hitam bisa jadi Presiden. Nah, kalau kembali ke konteks Indonesia, tidak usah bicara masalah agama dulu, orang luar Jawa saja susah jadi Presiden di Indonesia ini. Jadi bukan soal agama, ini karena berdasarkan suara terbanyak, demokrasi yang membawa seperti itu, bahwa pilihan orang jatuh pada hal yang identik pada dirinya sendiri.” 


“Tapi apapun itu, saya berharap kita tidak perlu butuh waktu 70 tahun untuk orang luar Jawa bisa menjadi Presiden di Indonesia, karena kalau kita menghitung 2014 itu artinya 69 tahun kita merdeka,” ujarnya.


Sumber: jusufkalla.info