Tampilkan postingan dengan label Calibration. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Calibration. Tampilkan semua postingan

Jumat, 08 November 2013

Istilah-istilah Dalam Kalibrasi

1. Standar Nasional
Suatu standar yang ditetapkan melalui peraturan pemerintah dan digunakan secara nasional sebagai dasar menetapkan nilai dari semua standar lain dari satuan yang bersangkutan.

2. Tertelusur
Suatu proses dimana penunjukan dari alat ukur dapat dibandingkan dengan standar nasional untuk ukuran yang dicari dalam satu / lebih tingkatan.

3. Ketidakpastian pengukuran.
Kesangsian yang muncul pada tiap hasil pengukuran. Pada dasarnya suatu pengukuran adalah kegiatan membandingkan antara 1 besaran dengan besaran lain yang sejenis, sehingga tidak ada istilah benar dalam pengukuran, yang ada hanyalah taksiran-taksiran, sehingga hasil pengukuran tersebut akan lengkap jika disertai dengan adanya ketidakpastian.

4. Faktor cakupan
Dalam kalibrasi sering dilambangkan sebagai (k) adalah suatu faktor yang dapat menjadikan ketidakpastian menjadi lebih logis. Pada dasarnya faktor yang mempengaruhi akurasi pengukuran tidak sebatas reapitibility, readability, dan standar tetapi juga ada faktor-faktor lain yang tidak diperhitungkan pada pengukuran tersebut. Nah faktor cakupan ini diharapkan dapat mewakili sumber-sumber ketidakpastian yang tidak dihitung tersebut.

5. Resolusi 

Nilai skala terkecil / suatu ekspresi kuantitatif dari kemampuan alat penunjuk untuk perbedaan yang cukup berarti antara nilai yang terdekat dari jumlah yang ditunjukkan.

6. Akurasi
Kemampuan dari alat ukur untuk memberikan indikasi kedekatan terhadap harga sebenarnya dari objek yang diukur.

7. Presisi
Berbeda dengan akurasi, kalau presisi adalah kecenderungan data yng diperoleh dari perulangan mengindikasikan kecilnya simpangan (deviasi)

8. Reapitibility
Ukuran variasi statistik data yang dihasilkan bila pengukuran dilakukan oleh personel, perlengkapan, serata ruangan dengan kondisi yang sama.

9. Readability
Kemampuan dari indra manusia dalam membaca data yang dihasilkan oleh suatu instrumen.
Readability ini dirumuskan dengan 1/2 x resolusi untuk alat ukur digital.

10.  Metrologi
Ilmu pengukuran dan aplikasinya yang menyangkut semua aspek teoritis dan praktis pengukuran, berapapun ketidakpastian pengukurannya dan apapun bidang aplikasinya (termasuk perancangan teknis, pelaksanaan pembuatan, pengendalian mutu, dan kalibrasi sampai kondisi lingkungan)



Kamis, 07 November 2013

Jasa Kalibrasi




Permintaan pasar terutama industri untuk perawatan alat-alat ukur yang dimilikinya tak pelak memberikan efect pada menjamurnya jasa-jasa kalibrasi.

Karena untuk menjamin hasil pengukuran dari suatu alat mendapatkan angka yang mendekati kebenaran salah satu cara yang bisa kita lakukan adalah dengan kalibrasi yaitu membandingkan besaran yang dihasilkan instrumen tersebut dengan standar yang tertelusur.

Investasi dengan jumlah yang besar terhadap standar yang tertelusur ini mungkin menjadi alasan bagi perusahaan untuk tidak melakukan kalibrasi terhadap alat ukur mereka sendiri.

Mereka lebih suka menyerahkan tugas tersebut pada laboratorium yang memberikan jasa kalibrasi, yang tentunya sudah mendapatkan akreditasi dari lembaga yang kompten di bidang akreditasi laboratorium. Selain praktis, dan mungkin lebih efisien dari sudut pandang biaya, hasil kalibrasi yang mereka dapatkan tentu juga lebih memuaskan karena kalibrasi dilakukan oleh orang-orang yang kompeten dari laboratorium penyedia jasa kalibrasi ini.

Manfaat Menggunakan Jasa Kalibrasi :
  1. Dengan adanya kalibrasi yang dilakukan oleh kalibrator yang kompeten tentu akan lebih menjaga kondisi alat ukur tetap terkontrol sesuai dengan spesifikasinya.
  2. Hasil kalibrasi yang menjamin kebenaran alat ukur tentu akan mempermudah kita dalam menganalisa masalah yang terjadi dalam produksi.

Misalnya : Jika ada produk yang spesifikasinya tidak sesuai dengan standar yang ada, maka kita bisa menyimpulkan bahwa masalah tersebut terjadi bukan berasal dari instrumen yang kita pakai, karena kita sudah menjamin bahwa alat tersebut masih sesuai dengan spesifikasinya dengan adanya kalibrasi yang dilakukan oleh kalibrator dari jasa kalibrasi tersebut.

sebagian dikutip dari sumber : http://kalibrasi.org/jasa-kalibrasi/

Rabu, 30 Oktober 2013

Teory of Uncertainty

TEORI KETIDAKPASTIAN
(TEORY OF UNCERTAINTY )
I. ILUSTRASI
1.1 STUDIKASUS
Seorang perawat Sebuah RS sedang mengukur suhu badan salah seorang pasiennya dengan menggunakan sebuah termometer gelas yang cukup teliti dan hasilnya 39,4 oC. sesaat dia tidak segera mencatatnya pada buku laporan kerja karena merasa sedikit ragu dengan hasil pengukurannya , sebab suhu tersebu relatif tinggi bagi pasien tersebut, dia memutuskan untuk melakukan pengukuran lagi dan hasilnya malah membuat dia bingung, yaitu 39,6 oC. karena bingung campur penasaran dia melakukan sekali lagi pengukuran dengan maksud memastikan apakah hasil pengukuran yang pertama atau kedua yang akan diambil, dan ternyata pengukuran ke –3 adalah 39,5 oC. Akhirnya dia memutuskan untuk mencoba dan mencoba lagi pengukurannya hingga 10 kali dengan harapan akan mendapatkan hasil terbanyak pada nilai tertentu dan nilai itulah yang akan diambil. Karena dia yakin bahwa nilai yang didapat tidak akan jauh dari sekitar nilai 39 oC, dan nilai terbanyak yang keluar tersebut bagi dia cukup beralasan untuk diambil karena sudah mewakili dari serangkaian proses pengukurannya. Dan dia tetap yakin seyakin-yakinnya bahwa dia tidak bisa memastikan diantara ke 10 hasil pengukuran tersebut mana yang menunjukkan nilai sebenarnya. Dia hanya mendapatkan nilai terbaiknya saja.
Hasil pengukuran dia selengkapnya adalah sbb:
39,4 oC
39,6 oC
39,5 oC
39,4 oC
39, 4 oC
39,5 oC
39,4 oC
39,4 oC
39,5 oC
39,4 oC
Rata –rata : 39,45 oC
1.2 DEFINISI DAN GAMBARAN UMUM
Dari gambaran kasu diatas jelas terlihat bahwa untuk mendapatkan atau menentukan nilai sebenarnya dari suatu hasil pengukuran adalah tidak mungkin, yang memungkinkan dari hasil pengukuran dan yang dapat kita laporkan adalah nlai terbaiknya saja yaitu yang diwakili oleh nilai rata-ratanya.
Jadi pada kasus diatas pasien yang bersangkutan mempunyai suhu badan 39,45 oC, hasil tersebut sudah sangat mewakili dan sudah mendaptkan hasil yang terbaik untuk menyatakan suhu sang pasien tresebut. Walaupun suhu sebenarnya dari sang pasien tersebut tidak dapat diketahui dengan pasti, yang jelas ada si sekitar nilai 39,45 oC dan disekitar kurang / lebih berapa ?, itulah yang disebut dengan ketidakpastian. Misalnya kurang lebih + X oC, maka nilai sebenarnya dari paien tersebut akan berada ( jatuh ) pada daerah nilai suhu 39,45 – X)oC hingga (39,45 + X ) oC. Jika datanya tunggal, hanya data tersebut diatas , maka nilai ketidakpastiannya dapat diwakili nilai standar deviasinnya. Jadi pada data diatas ketidakpastiannya adalah:
+ 0.07071 oC
dan diyakini bahwa nilai sebenarnya suhu pasien tersebut berada pada daerah 39,379 oC hingga 39,521 oC (39,45 + 0.07071 ) oC
selanjutnya seberapa yakin kita terhadap hasil tersebut diatas, yaitu bahwa nilai sebenarnya betul – betul akan berada pada rentang daerah tersebut, hal inilah yang disebut dengan tingkat kepercayaan ( Confidence level). Misalnya kita menentukan tingkat kepercayaan 95 %, ini berarti bahwa kemunkinan nilai sebenarnya akan berada ( jatuh ) pada lingkup daerah tersebut adalah 95 %. Sedang sisanya mungkin akan jatuh diluar daerah tersebut.
Jadi ketidakpastian adalah : rentang nilai disekitar hasil pengukuran yang didalamnya diharapkan terletak nilai sebenarnya dari besaran ukur.
U U
= Nilai rata-rata dari hasil pengukuran
 = Penyimpangan hasil pengukuran
U = Ketidakpastian hasil pengukuran
X = Nilai sebenarnya dari besaran ukur
II. ANALISA SUMBER – SUMBER KETIDAKPASTIAN
Timbulnya ketidakpastian dalam pengukuran menunjukkan ketidaksempurnaan manusia secara keseluruhan. Karenanya tidak ada kebenaran mutlak didunia ini, karena yang benar mutlak hanyalah milik Allah SWT, manusia hanyalah dapat memprediksi sesuatu pada tingkat terbaiknya saja.
Sumber-sumber ketidakpastian yang turut memberikan kontribusi selain ada pada diri manusia sendiri sebagai pelakuk pengukuran / kalibrasi juga pada alat-alat bantu (kalibrator ) yang digunakan untuk mengukur suhu pasien tersebut, juga resolusi alatnya, pengaruh suhu lingkungan. Secara rinci dari sumber-sumber ketidakpastian dapat digambarkan sebagai berikut:
Type A Type B
0.5 / div, dengan scale Interval ( SI) = 2mm
Type A Type B
Untuk mengevalusi masing- masing sumber ketidakpastian tersebut diperlukan analisa dengan menggunakan metoda Statistik, yang disebut analisa type A, dan menggunakan selain metode statistik yang disebut dengan Analisa type B. untuk lebih jelasnya dapat dilihat sebagai berikut:
2.1 . Analisa Type A , ( Ua )
Pada tipe ini biasanya ditandai dengan adanya dat pengukuran, misalnya n kali pengukuran, maka selanjutnya dari data tersebut, akan ditemukan nilai rata-ratanya, standar deviasinya, dan atau repeatabilitynya. Bentuk kurva dari tipe ini adalah sebaran Gauss. Rumus umum ketidakpatian untuk tipe A ini adalah:
Ua = , dimana  = Standar Deviasi
Pada contoh sebelumnya dapat dihitung :
Untuk 10 kali pengambilan data ( n = 10)
Rata – rata = 39,45 oC
Sandar Deviasi = 0.07071 oC
Ketidakpastian , Ua = 0.07071 /  10 = 0.0224 oC
Derajat Kebebasan , v = n-1 = 9 ( Rumus v = n-1)
2.2. Analisa type B, UB
Pada analisa tipe ini akan digunakan selain metode statistik, sehingga dari contoh diatas :
1. Sertifikat kalibrasi dari termometer gelas: misalnya 0,1 oC,
Nilai ini sudah merupakan hsil dari ketidakpastian diperluas U95 , karenanya harus dicari terlebih dahulu ketidakpastian kombinasinya Uc, ( sebagai ketidakpastian individual ) yaitu dengan membagi ketidakpastian tersebut dengan faktor cakupan k. jika tidak ada pernyataan apapun maka dalam setiap laporan kalibrasi dianggap k = 2, untuk tingkat kepercayaan 95 %.
Namun jika kita menginginkan nilai k yang lebih optimis maka harus dicari terlebih dahulu nilai derajat kebebasannya , v, yang selanjutnya akan ditemukan nilai k. dalam pencarian nilai v, terlebih dahulu harus ditemukan nilai reliabilitynya ( R) dari laboratorium pembei sertifikat termometer gelas tersebut, misalnya kita perkirakan dengan nilai R = 10 %
Maka didapat:
V = ½ (100 / 10 )2
= 50 , ( Rumus, v = ½ ( 100 / R) 2 )
pada tabel T-distribution didapat k = 2,01
maka nilai yang tepat untuk ketidakpastian kombinasi termometer gelas tersebut adalah :
UB1 = 0,1 / 2,01 = 0,0498 oC
2.1 Untuk resolusi alat dibedakan atas Alat digital dan Analog.
Jika Alat digital : Ketidakpastian (u)
: u = (1/2 resolusi ) / 3
untuk Alat analog : Ketidakpastian (u)
: u = Readability / 2
Jika pada ilustrasi tersebut alat yang digunakan adalah termometer digital dengan resolusi 0,1 oC, maka:
UB2 = (1/2 .0,1 ) / 3 = 0,0298 oC
III KETIDAKPASTIAN KOMBINASI , UC
Selanjutnya dari semua sumber ketidakpastian tersebut diatas harus dikombinasikan / digabungkan untuk memberikan gambaran menyeluruh ketidakpstian dari hasil kalibrasi tersebut. Rumus umum ketidakpastian kombinasi adalah:
Uc =
Atau secara umum :
Uc2 = (Ci.Ui)2
Dimana ci = koefisien sensitifitas dariketidakpastian ke-I
Pada contoh diatas, karena pengukuran suhu hanya merupakan hasil pembacaan dari suhu yang terlihat dari termometer gelas kemudian hasilnya dikoreksi dengan nilai yang tercantum dalam sertifikat kalibrasinya, maka bila koefisien sensitifitas masing – masing adalah 1
Uc = [(1.(0,0224))2 +(1.(0,0498))2 + (1.(0,0289))2 + (1.(0,058))2]1/2
= 0,085 oC
3.1 Koefisien Sensitifitas ( Cn )
koefisien sensitifitas dalam sistem pengukuran tidak terlepas dari masalah korelasi pengukuran , maksudnya bahwa setiap hasil pengukuran merupakan hasil korelasi antara besaran masukan satu dengan yang lainnya , yang besarnya ditentukan dengan derivatif.
Turunan ( derivatif) hasil pengukuran tersebut dengan masing-masing masukan itu pada bentuk / model pengukuran yang dilakukan.
Atau dengan kata lain, apabila didalam melakukan pengukuran sebuah besaran ukur tidak dilakukan pengukuran secara langsung terhadap besaran tersebut ( misal untuk mengukur Arus , dilakukan pengukuran tegangan , jadi pengukuran tidak langsung ), maka sensitifitas diperlukan dalam menghitung ketidakpastian kombinasinya, akan tetapi bila didalam melakukan pengukuran tersebut besaran yang kita inginkan dapat diukur langsung maka sensitifitasnya dinyatakan dengan 1.
Rumus umum mencari koefisien sensitifitas adalah:
 Pada pengukuran suhu diatas, adalah merupakan pembacaan ( hasil pengukuran ) + koreksi :
Pengukuran suhu (T) = hasil + Koreksi (S)
Jadi koefisien sensitifitas hasil adalah derivatif T terhadap H;
CH = dT / dH = 1
 Misal ; pada pengukuran luas ( A), yang merupakan hasil perkalian antara panjang (P ) dan lebar (L), maka koefisien sensitifitas masing masing adalah:
A = P x L
CP = dA / dP = L
CL = dA / dL = P
III. KETIDAKPASTIAN DIPERLUAS
Dalam pelaporan ketidakpastian hasil pengukuran / kalibrasi yang dilaporkan adalah ketidakpatian yang sudah dalam perluasan ( expanded ), sehingga hasil tersebut sangat logis dalam kenyataan, selain itu dengan menggunakan tingkat kepercayaan 95 %, seperti lazimnya dipakai dlam pelaporan – pelaporan saat ini, lain halnya jika ada pengecualian dengan mengambil tingkat kepercayaan tertentu. Rumus ketidakpastian diperuas ( expanded uncertainty ) adalah:
U95 = k Uc
Dimana: U95 = Ketidakpatian diperluas ( expanded Uncertainty )
K = Faktor cakupan ( caverage factor)
Uc = ketidakpastian kombinasi ( Combined uncertainty ) untuk mendapatkan komponen – komponen diatas, k dan uc diperlukan pemahaman dan pencarian faktor lainnya, yaoitu:
4.1 Derajat Kebebasan, v
Derajat kebebasan efektif dicari dengan dua cara, yaitu:
 Jika data dipeoleh dari pengukuran berulang sebanyak n kali, maka derajat kebebsan adalah:
V = n-1
Pada contoh diatas didapat 10 kali pengulangan pengukuran.
Maka : v = 10 – 1= 9
 Jika data merupakan hasil perkiraan atau estimasi dengan reliability ( R ), maka:
V = ½ ( 100 / R)2 , dimana R dalam satuan persen (%)
Pada contoh diatas, resolusi alat adalah 0,1 oC, dalam hal ini batas kealahan mutlak adalah ½ x Resolusi , yaitu 0,05 oc, dimana dalam hal ini bentuk kurvanya adalah rectangular, maka nilai ketidakpastiannya adalah 0,05 / 3 = 0,0289 oC
Dengan estimasi reliabilitynya adalah 10 %, maka:
V = ½ ( 100 / 10 )2
= 50
4.2 Derajat Kebebasan effektif, V eff
Nilai faktor cakupan, k untuk perkalian ketidakpastian diperluas diatas didapat dari derajat kebebasan effektif, Veff, dengan rumus:
Veff = ,
Dimana Ci = koefisien Sensitifita pada Ketidakpastian Ke-I
Uc = Ketidakpastian kombinasi / gabungan
Ui = ketidakpastian individual ke-I
Vi = Derajat Kebebasan pada ketidakpastian individual ke-I
Pada contoh diata , telah didapat ketidakpastian kombinasi,
UC = 0,085 oC
UA = 0,0224 oC, v = 9
UB1 = 0.0498 oC, v = 50
UB2 = 0,0289 oC, v = 50
UB3 = 0,058 oC, v = 
Veff = = 316,5
Pada tabel T-Student’sDistribution, didapatkan k = 1,96
Jadi ketidakpastian diperluas , U95= k. Uc
= 1,96 x 0,085 = 0,1666
= + 0,16 oC
Jadi hasil lengkap pengukuran adalah (39,45 + 0,16) oC
4.3 Tingkat kepercayaan , U95
Tingkat kepercayaan merupakan tingkatan keyakinan akan keberadaan nilai sebenarnya pada suatu tindak pengukuran dengan menggunkanalat tertentu. Penjelasan lengkap telah diberikan pada ilustrasi kasus diatas
4.4 Faktor Cakupan , k
faktor cakupan meruakan faktor pengali pada ketidakpastian, sehingga membentuk cakupan logis pada penggunaan keseharian. Faktor cakupan dicari menggunakan tabel T-Student Distribution, yang diberikan pada halaman akhir dari materi ini.
IV. RINGKASAN CARA PENENTUAN KETIDAKPASTIAN
Secara umum dalam menentukan nilai ketidakpastian suatu hasil pengukuran dapat melalui tahap-tahap sebagai berikut:
1. Tentukan model matematik pengukurannya
2. Tentukan koefisien sensitifitas , Ci
3. Tentukan derajat kebebasan
4. Tentukan ketidakpastian standar pada masing-masing kontributor u
5. Tentukan ketidakpastian kombinasi , Uc
6. Tentukan derajat kebebasan efektif, V eff
7. Tentukan tingkat kepercayaan yang dipilih, misal 95 %
8. Tentukan faktor cakupan, k
9. Tentukan ketidakpastian diperluas, Uexp
Sedangkan untuk mendapatkan faktor cakupan yang nantinya digunakan untuk mendapatkan ketidakpastian diperluas , maka salah satu pemecahannya adalah dengan menyajikan tabel T-Student Distribution,
Dimana probabilitasnya dinyatakan sbb:

Degree of freedom V Probabilitas / Tingkat kepercayaan (%)
68,27 % 90 % 95% 99%
1 1,84 6,31 12,71 63,66
2 1,32 2,92 4,30 9,92
3 1,20 2,35 3,18 5,84
4 1,14 2,13 2,78 4,60
5 1,11 2,02 2,57 4,03
6 1.09 1,94 2,45 3,71
7 1,08 1,89 2,36 3,50
8 1,07 1,86 2,31 3,36
9 1,06 1,83 2,26 3,25
10 1,05 1,81 2,23 3,17
11 1,05 1,80 2,20 3,11
12 1,04 1,78 2,18 3,05
13 1,04 1,77 2,16 3,01
14 1.04 1,76 2,14 2,98
15 1,03 1,75 2,13 2,95
16 1,03 1,75 2,12 2,92
17 1,03 1,74 2,11 2,90
18 1,03 1,73 2,10 2,88
19 1,03 1,73 2,09 2,86
20 1,03 1,72 2,09 2,85
25 1,02 1,71 2,06 2,79
30 1,02 1,70 2,04 2,75
35 1,02 1,70 2,03 2,72
40 1,02 1,68 2,02 2,70
45 1,02 1,68 2,01 2,69
50 1,01 1,68 2,01 2,68
100 1,005 1,660 1,984 2,626
 1 1,645 1.960 2,576
http://thathit.wordpress.com/

Sistem Kalibrasi


Kalibrasi alat sangat diperlukan guna menentukan ketepatan suatu alat ukur. Bagaimanakah agar dapat melakukan kalibrasi yang efektif ? Inilah sedikit informasi mengenai pengenalan sistem kalibrasi serta pengetahuan agar sesorang dapat melakukan kalibrasi alat agar berjalan efektif.

Filosofi Kalibrasi

  • Setiap instrumen / peralatan pengukuran harus dianggap tidak cukup baik.
  • Setelah ada bukti melalui kalibrasi dan pengujian yang memberikan data kalibrasi kalibrasi / pengujian memuaskan, baru percaya bahwa peralatan tersebut baik.
  • Jadi walaupun alat tersebut baru, harus tetap dikalibrasi terlebih dahulu sebelum digunakan.
Konsep Kalibrasi
  • Kalibrasi merupakan kegiatan untuk memastikan hubungan antara harga atau nilai (besaran yang diukur) yang ditunjukkan oleh peralatan pengukuran atau sistem pengukuran atau harga yang diabadikan pada bahan ukur dengan harga sebenarnya.
  • Kalibrasi adalah serangkaian kegiatan yang membentuk hubungan antara nilai yang ditunjukkan oleh instrumen pengukur atau sistem pengukuran atau nilai yang diwakili oleh bahan ukur dengan nilai-nilai yang sudah diketahui yang berkaitan yang berkaitan dengan besaran yang diukur pada kondisi tertentu.
  • Dengan kata lain : 
    Kalibrasi adalah kegiatan untuk menentukan kebenaran konvensional penunjukkan alat ukur dan bahan ukur dengan cara membandingkan terhadap standar ukurnya yang mampu telusur ke standar nasional dan atau internasional untuk satuan ukuran.


Mampu Telusur


Bagaimanakah konsep mampu telusur itu ? 


  • Konsep ketertelusuran pengukuran dapat diartikan secara sederhana yaitu alat ukur yang digunakan untuk pengukuran harus terkalibrasi terhadap alat ukur lain yang sejenis yang dapat berfungsi sebagai acuan.
  • Selanjutnya alat acuan tersebut harus terkalibrasi terhadap acuan yang lebih akurat.
  • Demikian seterusnya sampai pada acuan yang paling akurat yang umumnya berupa standar nasional.
  • Kalibrasi dikatakan tertelusur, jika setiap mata rantai pengukuran yang menuju ke standar nasional / internasional yang terdokumentasi serta ada bukti mengenai personil yang melakukan kalibrasi, nama alat ukur yang digunakan, dan hasil estimasi ketidakpastian pengukuran.
  • Setiap pekerjaan kalibrasi harus dilakukan oleh organisasi yang terbukti memiliki kompetensi teknis yang dipersyaratkan, memiliki perelengkapan yang memadahi, dan menjalankan sistem mutu SNI 19-17025-2000 secara efektif.
Jadi bagaimanakah kesimpulan mampu telusur itu ?





Mampu telusur :

Sifat dari suatu hasil pengukuran yang dapat dikaitkan dengan standar tertentu yang tepat, umumnya standar nasional atau internasional, melalui rantai pembandingan yang tidak terputus.



Konsep Harga Benar
Harga benar (true value) adalah konsep ideal dan tidak dapat diketahui dengan pasti. Dalam prakteknya harga ini diganti oleh dengan harga yang diabadikan pada standar dan kemudian secara internasional diambil sebagai harga yang benar




Contoh :
  • Satuan panjang : meter (m)
Satu meter adalah jarak yang ditempuh cahaya dalam vakum pada waktu 1 per 299 792 458 detik (CGPM ke 17, 1983). CGPM : General Conference On Weights And Measures
  • Satuan massa : kilogram (kg)
Satu kilogram adalah massa prototip kilogram internasional (CGPM ke 1, 1989)


Selang Waktu Kalibrasi


Selang waktu kalibrasi alat ukur tergantung pada karakteristik dan tujuan pemakaiannya.




Ditinjau dari segi karakteristiknya, makin tinggi kualitas metrologi makin panjang selang waktu kalibrasinya. Jika ditinjau dari tujuan pemakaiannya, semakin kritis dampak hasil ukurnya semakin pendek selang kalibrasinya.

Jadi selang waktu kalibrasi dipengaruhi oleh :
  1. Jenis alat ukur
  2. Frekuensi pemakaian
  3. Pemeliharaan


Penentuan selang waktu kalibrasi biasanya dinyatakan dalam beberapa cara :



  • Dinyatakan dalam waktu kalender, misal 6 bulan sekali, setahun sekali, dst.
  • Dinyatakan dalam waktu pemakaian, misalnya 1000 jam pakai, 5000 jam pakai, dst.
  • Kombinasi cara pertama dan kedua di atas, misalnya 6 bulan sekali atau 1000 jam pakai, tergantung mana yang lebih dahulu.
Institusi Kalibrasi
Kegiatan kalibrasi dapat dilakukan oleh instansi teknik / laboratorium milik pemerintah atau swasta.

Untuk dapat membuktikan kemampuan teknisnya, laboratorium tersebut harus mengikuti / menerapkan persyaratan kompetensi yang ada pada ISO 15189, tentang “Persyaratan khusus untuk mutu dan kompetensi laboratorium medik” atau ISO 17025 untuk "persyaratan mutu dan kompetensi laboratorium penguji dan kalibrasi", dan seterusnya.

Sumber Daya Kalibrasi
Untuk dapat melakukan kegiatan kalibrasi, laboratorium kalibrasi minimum harus mempunyai sumber daya :

  • Alat kalibrasi yang mampu telusur
  • Teknisi kalibrasi yang berkualifikasi
  • Metode / prosedur kalibrasi
  • Ruangan dengan kondisi lingkungan kerja yang memadahi


http:// lansida.blogspot.com/

Selasa, 29 Oktober 2013

Kompetensi Lab. Kalibrasi - Baristand Industri Medan


Begitu banyaknya penyedia jasa layanan kalibrasi  yang ada saat ini kadang membuat kita bingung dimana kita akan memberikan kepercayaan terhadap kalibrasi alat ukur kita.

Tidak bisa dipungkiri, ada beberapa dari penyedia layanan tersebut yang hanya bermotifkan uang atau money oriented dalam memberikan jasa kalibrasi, tanpa menghiraukan kebutuhan apa yang diinginkan oleh pelanggannya.



Padahal untuk memberikan kepuasan pelanggan akan layanan kalibrasi kita maka sangat disarankan kita juga memberikan pengetahuan tentang apa pentingnya kalibrasi tersebut dan mengapa peralatan ukur pelanggan tersebut perlu dikalibrasi.
Berikut ini adalah beberapa tip yang bisa kita gunakan dalam menseleksi layanan kalibrasi.





Cara Memilih Layanan Kalibrasi :

Laboratorium Kalibrasi Baristand Industri Medan
  • Pastikan kompetensi dari petugas kalibrasi, hal ini bisa dilakukan dengan cara menanyakan berapa tahun mereka sudah berpengalaman di bidan kalibrasi dan pelatahian tentang kalibrasi apa saja yang sudah mereka peroleh.
  • Perhatikan kondisi standar yang mereka pakai apakah terawat atau tidak. Ini menunjukkan komitmen mereka untuk memberikan data yang valid dari kegiatan kalibrasi yang mereka tawarkan.
  • Perhatikan cara kalibrasi mereka apakah sesuai dengan prosedur. Tanyakan juga prosedur mereka merujuk kemana.
  • Bila perlu lakukan kunjungan ke laboratorium kalibrasi tersebut untuk menilai kondisi lingkungan untuk kalibrasi ataupun yang lainnya.


Kami memberikan jasa layanan kalibrasi alat ukur untuk berbagai ruang lingkup seperti yang tertera berikut ini :

Kompetensi Lab. Kalibrasi - Baristand Industri Medan (LK-BIM)


Sertifikat Akreditasi Laboratorium Kalibrasi dari Komite Akreditasi Nasional (KAN) dengan Nomor Register :  LK-021-IDN 



Sertifikat Akreditasi
Semoga artikel kompetensi LK-BIM diatas dapat bermanfaat, dan memberi gambaran tentang betapa pentingnya kompetensi dalam memilih Laboratorium Kalibrasi. Pilihlah laboratorium yang sudah terakreditasi, pertimbangkan juga jarak antara perusahaan anda dengan Laboratorium Kalibrasi yang dituju, disamping perhatikan penawaran harga dari laboratorium tersebut. 



modif dari http://kalibrasi.org/

Sabtu, 26 Oktober 2013

Pengetahuan Kalibrasi


Kalibrasi pada dasarnya adalah suatu kegiatan untuk mencari hubungan antara nilai yang ditunjukkan oleh alat ukur dengan nilai-nilai yang sudah diketahui, yang berkaitan dengan besaran yang diukur dalam kondisi tertentu, atau bisa dikatakan kalibrasi sebagai suatu kegiatan untuk menentukan kebenaran konvensional nilai penunjukan alat ukur dan bahan ukur dengan cara membandingkan terhadap standar yang tertelusur.

Adapun tujuan dari kalibrasi adalah :

  1. Menjamin hasil-hasil pengukuran sesuai dengan standar nasional ataupun internasional.
  2. Menetapkan penyimpangan dari alat ukur tersebut terhadap kebenaran konvensional.
  3. Dalam upaya pemenuhan pemenuhan persyaratan terhadap sistem manajemen ISO 9001 : 2008 klausul 7.6 tentang pengendalian alat, pemantauan dan pengukuran. 
Catatan : Jadi untuk suatu perusahaan yang menetapkan sistem manajemen ISO 9001 : 2008, kegiatan kalibrasi terhadap alat-alat yang mempengaruhi hasil produk mereka adalah mutlak untuk dilakukan.
Kegiatan kalibrasi alat ukur mungkin terkesan rumit bagi sebagian perusahaan, maka tak jarang banyak diantara mereka yang lebih suka mengguakan pihak ketiga seperti laboratorium kalibrasi yang sebagian besar telah membuka jasa kalibrasi. Selain lebih praktis mungkin dari segi biaya juga bisa dibilang lebih efisien jika alat ukur yang kita miliki tidak terlalu banyak. Dan tentunya hasil yang didapatkanpun lebih valid karena proses kalibrasi dilakukan oleh personel-personel yang sudah handal dibidangnya.

Istilah Dalam Kalibrasi alat ukur :

1. Standar Nasional
Suatu standar yang ditetapkan melalui peraturan pemerintah dan digunakan secara nasional sebagai dasar menetapkan nilai dari semua standar lain dari satuan yang bersangkutan.

2. Tertelusur 
Suatu proses dimana penunjukan dari alat ukur dapat dibandingkan dengan standar nasional untuk ukuran yang dicari dalam satu / lebih tingkatan.

3. Ketidakpastian pengukuran
Kesangsian yang muncul pada tiap hasil pengukuran. Pada dasarnya suatu pengukuran adalah kegiatan membandingkan antara 1 besaran dengan besaran lain yang sejenis, sehingga tidak ada istilah benar dalam pengukuran, yang ada hanyalah taksiran-taksiran, sehingga hasil pengukuran tersebut akan lengkap jika disertai dengan adanya ketidakpastian.

4. Faktor cakupan
Dalam kalibrasi sering dilambangkan sebagai (K) adalah suatu faktor yang dapat menjadikan ketidakpastian menjadi lebih logis. Pada dasarnya faktor yang mempengaruhi akurasi pengukuran tidak sebatas reapitibility, readability, dan standar tetapi juga ada faktor-faktor lain yang tidak diperhitungkan pada pengukuran tersebut. Nah faktor cakupan ini diharapkan dapat mewakili sumber-sumber ketidakpastian yang tidak dihitung tersebut.


Kamis, 24 Oktober 2013

Beda Kalibrasi dan Tera


Terkadang kita masih bingung apa itu yang membedakan antara kalibrasi dan tera. Artikel pendek ini mungkin bisa membantu menjelaskan apa perbedaan antara kalibrasi dan tera.
Dari segi metrologi, perbedaan mendasar antar kalibrasi dan tera adalah kalibrasi termasuk metrologi industri sedangkan tera merupakan metrologi legal.

Perbedaan Tera dan Kalibrasi :

Metrologi Industri (Kalibrasi)
  1. Sebagai jaminan Mutu  yaitu untuk memastikan bahwa sistem pengukuran dan alat ukur di industri berfungsi dengan akurasi yang memadai.
  2. Untuk persiapan, proses produksi maupun pengujian.
  3. Bersifat sukarela, walaupun menjadi bersifat wajib ketika suatu perusahaan menerapkan standar lain seperti ISO 9001, ISO 14001, ataupun OHSAS 18001 karena kalibrasi tersebut tertuang dalam salah satu klausul dari stadar tersebut.
  4. Diaudit/ditinjau Assesor /auditor (BSN-KAN). 

Metrologi Legal (Tera)
  1. Bertujuan untuk melindungi konsumen
  2. Untuk transaksi perdagangan
  3. Bersifat wajib
  4. Dikontrol oleh Pemerintah( DOM)
Semoga bermanfaat

Rabu, 23 Oktober 2013

Kalibrasi Itu Wajib


Bagi anda yang sering berhubungan dengan alat ukur pasti tidak asing lagi dengan istilah kalibrasi. Namun demikian banyak diantara kita tidak benar-benar tahu apa sebenarnya kalibrasi itu. Anggapan banyak orang masih menganggap kalibrasi sebagai kegiatan untuk mengembalikan tingkat akurasi alat seperti sedia kala. Padahal Pengertian kalibrasi menurut ISO/IEC Guide 17025:2005 dan Vocabulary of International Metrology (VIM) adalah serangkaian kegiatan yang membentuk hubungan antara nilai yang ditunjukkan oleh instrumen ukur atau sistem pengukuran, atau nilai yang diwakili oleh bahan ukur, dengan nilai-nilai yang sudah diketahui yang berkaitan dari besaran yang diukur dalam kondisi tertentu.

Dengan kata lain, kalibrasi adalah kegiatan untuk menentukan kebenaran konvensional nilai penunjukkan alat ukur dan bahan ukur dengan cara membandingkan terhadap standar ukur yang mamputelusur (traceable) ke standar nasional untuk satuan ukuran dan/atau internasional. Atau bahasa singkatnya, kalibrasi adalah kegiatan untuk mengetahui akurasi alat dengan cara membandingkanya dengan alat ukur standard. Tujuan kalibrasi  adalah untuk mencapai ketertelusuran pengukuran.
Kalibrasi itu wajib
 Kapan peralatan butuh untuk dikalibrasi?
  • Peralatan baru.
  • Periodik selama kurun waktu tertentu (Biasanya 1 tahun sekali).
  • Jika sudah digunakan dalam batas tertentu (misalnya untuk clamp meter ada yang mensyaratkan setelah 100000 kali dibuka harus dikalibrasi)
  • Ketika suatu peralatan mengalami tumbukan atau getaran yang berpotensi mengubah kalibrasi
  • Ketika hasil pengukuran dipertanyakan
Jadi kalau menginginkan data hasil ukur yang bisa dipertanggung jawabkan, pastikan peralatan ukur sudah dikalibrasi. Maka dari itu kalibrasi itu wajib. 

Sumber : TRIDINEWS Tuesday , 25 June 2013

Minggu, 20 Oktober 2013

Kalibrasi Timbangan

PENDAHULUAN

Timbangan merupakan salah satu alat ukur yang telah lama digunakan. Alat ini memerlukan tingkat presisi yang tinggi. Perkembangan teknologi sistem kerja timbangan mengalami kemajuan yang sangat pesat, terutama pada saat ditemukan sistem elektromagnetic-force (emf).

Timbangan jenis ini disamping dilengkapi dengan perangkat keras, juga dilengkapi dengan perangkat lunak (sofware). Timbangan ini, sudah tentu akan mengalami perubahan, baik pada komponen elektronik maupun mekaniknya. Untuk itu kalibrasi perlu dilakukan untuk mengecek kebenaran dari penunjukan skalanya, sehingga pada saat digunakan didapat nilai yang mendekati nilai sebenarnya.

TIMBANGAN (ANALITYCAL BALANCE)
Menimbang merupakan salah satu bentuk pengukuran yang tertua, dan juga salah satu jenis pengukuran yang memerlukan posisi yang sangat tinggi. Akurasi dengan 1 gram sangat dengan mudah didapat. Untuk akurasi 1 mg harus dilakukan oleh timbangan yang lebih baik yaitu analitik atau timbangan mikro.

Timbangan sangat luas digunakan, baik dalam bidang industri atau untuk keperluan komersial. Untuk maksud tersebut, maka akurasi timbangan harus diketahui. Tulisan ini menjelaskan bagaimana mengkalibrasi timbangan yang digunakan di industri dan penelitian ilmiah. Meskipun demikian, untuk timbangan dengan kapasitas besar, seperti platform scales, jembatan timbang, dan beberapa jenis timbangan yang menggunakan sistem loadcell secara eksplisit cara kalibrasinya dapat dilakukan.

Selama lebih dari 300 ribu tahun bentuk timbangan tidak berubah secara berarti. Namun, beberapa dekade belakangan, perubahan besar telah terjadi pada timbangan, baik bentuk maupun metoda menimbang. Puncaknya ketika ditemukan metoda electromagnetic-force-compensation (electronic)

JENIS TIMBANGAN

Timbangan diklasifikasikan dalam 3 jenis yaitu :
1. Timbangan Dua Pan, Tiga Pisau (Two-Pan, Three Knife Edge Balance)
Timbangan jenis ini sering juga dikenal sebagai timbangan sama lengan, karena ujung pisaunya (knife-edge) mendukung pan, tiga pisau tersebut menyeimbangkannya. Timbangan ini terbagi atas dua tipe yaitu :

  1. Yang menggunakan peredam (with damped) dan
  2. Yang tidak menggunakan peredam (undamped)
Gambar berikut memperlihatkan timbangan tipe yang tidak menggunakan peredam.



2. Timbangan Pan Tunggal (Single-Pan, Two-Knife-Edge Balances)
Instrumen ini umumnya dibagi dalam dua kategori yaitu : Timbangan pembebanan diatas (Top Loading) dan Timbangan Analitik (Analitical Balances). Gambar berikut memperlihatkan tipe analitik.









Pada Timbangan Analitik gaya beban berada dibawah tiang timbangan dan tiang menahan pan selama pembebanan ataupun tanpa pembebanan.
Untuk timbangan tipe Top-Loading pannya berada diatas tiang yang ditumpu oleh sambungan batang yang paralel dan biasanya tidak ditahan oleh mekanisme. Kedua tipe timbangan tersebut pada umumnya menggunakan peredam yang sangat kritikal.

Kebanyakan timbangan mempunyai beberapa massa yang di pasang dengan pan sehingga apabila sebuah gaya yang diberikan ke pan timbangan, maka gayanya sama dengan berat massa yang terangkat. Besarnya nilai massa tersebut dapat diamati  pada optikal pada timbangan. Massa tersebut cenderung konstan, sehingga timbangan jenis ini disebut juga sebagai constant-load balances. Display pada optik sering dipasang electronic digital display, tetapi konstruksi ini tidak mempengaruhi metode pengujian ataupun pemakaian.

3.  Timbangan Kompensi-Gaya-Elektromagnit  (Electromagnetic-Force-
     Compensation Balances)

Semua timbangan pada tipe ini mengukur total gaya gravitasi bumi atau berat. Gambar  berikut memperlihatkan mekanisme timbangan tersebut.
           
Kebanyakan Timbangan jenis ini mempunyai pan diatas (top loading). Sebuah koil yang sangat rigid ditempatkan diantara magnet. Ketika sebuah massa diletakkan diatas pan, maka pan akan turun. Akibatnya arus yang melalui koil bertambah. Arus ini diukur sebagai suatu tegangan terhadap sebuah tahanan listrik (resistor), yang selanjutnya dapat dibaca pada digital voltmeter. Dari output yang terjadi dapat dikorelasikan dengan massa yang diberikan pada pan. Karena pengoperasiannya dilakukan oleh komponen elektrik maka timbangan ini disebut juga timbangan elektronik.

Beberapa timbangan analitik secara khusus didesain menggunakan force-cell. Dengan aplifier yang presisi maka dapat mendeteksi sampai 0,3 mg, tetapi yang diproduksi hanya timbangan dengan skala terkecil 0,6 mg. Karena display jenis timbangan ini dapat dinolkan pada sembarang posisi gaya, maka timbangan ini tidak memerlukan fungsi tare.

Beberapa timbangan dengan kapasitas yang besar, terutama timbangan tipe platform scale, mempunyai mekanisme yang menggunakan Loadcell. Timbangan tipe ini sekarang akurasinya bisa sampai 0,1 gram. Bagaimanapun karena timbangan elektronik dapat dipertimbangkan sebagai kotak hitam (black boxes) maka metode kalibrasinya tergantung dari sistem yang digunakan untuk mendeteksi massa.